Kecerdasan buatan (AI) makin banyak dipakai buat meningkatkan efisiensi di tempat kerja. Salah satu teknologi yang mulai banyak dibahas adalah AI yang bisa mendeteksi emosi karyawan lewat email, video meeting, dan chat di platform kerja. Katanya, ini bisa bantu perusahaan memahami kondisi tim, meningkatkan produktivitas, dan mencegah burnout.
AI bekerja dengan menganalisis pola komunikasi, intonasi suara, ekspresi wajah, sampai pilihan kata dalam percakapan digital. Misalnya, AI bisa mendeteksi tanda-tanda stres atau kelelahan dari perubahan gaya menulis email atau kurangnya keaktifan dalam rapat online. Kalau ditemukan pola negatif, sistem bisa kasih sinyal ke manajer supaya segera mengambil tindakan.
Beberapa perusahaan besar udah mulai mengadopsi teknologi ini. Microsoft, misalnya, punya fitur analitik di Microsoft Teams yang bisa mengukur tingkat keterlibatan karyawan berdasarkan pola komunikasi. Lalu ada startup seperti Cogito yang pakai AI buat kasih umpan balik real-time soal nada suara di panggilan customer service, supaya agen tetap terdengar ramah dan empati.
Tapi, di balik manfaatnya, ada juga kekhawatiran soal privasi. Karyawan bisa merasa diawasi terus-menerus, bahkan dalam komunikasi yang sifatnya pribadi. Apalagi, AI nggak selalu akurat dalam memahami emosi seseorang, karena faktor budaya dan gaya komunikasi tiap orang bisa beda-beda.
Yang lebih mengkhawatirkan, data emosi ini bisa disalahgunakan. Kalau nggak diatur dengan baik, perusahaan bisa aja menilai kinerja seseorang hanya berdasarkan tingkat stresnya, padahal itu nggak selalu berkaitan langsung dengan produktivitas. Alih-alih bikin lingkungan kerja lebih nyaman, bisa-bisa malah makin bikin tertekan.
Di sisi lain, kalau digunakan dengan etika yang jelas, AI ini bisa jadi alat yang bermanfaat. Transparansi itu penting—karyawan harus tahu bagaimana data mereka digunakan dan harus ada batasan supaya teknologi ini benar-benar untuk kesejahteraan, bukan sekadar alat kontrol. Regulasi juga perlu diterapkan, supaya ada keseimbangan antara efisiensi bisnis dan hak karyawan.
Pada akhirnya, AI buat deteksi emosi ini ibarat pisau bermata dua. Kalau dipakai dengan bijak, bisa bikin lingkungan kerja lebih sehat dan suportif. Tapi kalau disalahgunakan, justru bisa menambah tekanan kerja dan bikin orang nggak nyaman. Jadi, penting banget buat menetapkan batasan yang jelas, biar manfaatnya bisa dirasakan tanpa mengorbankan privasi dan kenyamanan karyawan.