Perbedaan Redux dan Context API dalam React Native
1. Tujuan
2. Skalabilitas
3. Performance (Khusus di React Native)
Redux:
- Lebih optimal dengan selective rendering dan memoization.
- Cocok untuk aplikasi besar dengan banyak komponen interaktif.
- Bisa menggunakan
react-native-mmkv
atau redux-persist
untuk persistent storage.
Context API:
Bisa menyebabkan re-render berlebihan, terutama di aplikasi dengan banyak komponen.
Tidak memiliki fitur built-in untuk caching atau persist data.
4. Middleware & Side Effects
Redux:
- Bisa menggunakan middleware seperti Redux Thunk atau Redux Saga untuk menangani side effects (misalnya API calls).
- Bisa mengelola data secara lebih efisien, terutama saat menangani async storage.
Context API:
5. Tooling & Debugging
Redux:
- Redux DevTools bisa digunakan dengan Reactotron untuk debugging di React Native.
- Mudah melihat perubahan state secara real-time.
Context API:
6. Persistensi Data (AsyncStorage & MMKV)
Redux: Bisa menggunakan redux-persist untuk menyimpan state di AsyncStorage atau MMKV.
Context API: Harus mengatur penyimpanan manual dengan AsyncStorage, yang bisa lebih merepotkan.
7. Kompleksitas
Redux:
- Membutuhkan setup tambahan (store, reducer, action, middleware).
- Lebih banyak boilerplate, tetapi lebih terstruktur dan scalable.
Context API:
Lebih simpel, cukup dengan useContext
dan useReducer
jika diperlukan.
Lebih cepat diimplementasikan untuk state sederhana.
8. Penggunaan yang Disarankan
Gunakan Redux jika:
Aplikasi React Native memiliki banyak state yang kompleks.
Perlu caching, persistence, atau middleware untuk menangani API call & async storage.
Ingin debugging lebih mudah dengan Redux DevTools & Reactotron.
Gunakan Context API jika:
Aplikasi memiliki state global yang sederhana, seperti tema, autentikasi, atau preferensi user.
Tidak ingin menambahkan dependensi tambahan seperti Redux.
Performa tidak menjadi masalah besar (misalnya, aplikasi kecil atau sederhana).