Pernah merasa semua iklan di media sosial terdengar sama? Mulai dari yang terkesan terlalu akrab, menggunakan kata-kata seperti diskon terbatas! atau jangan sampai kehabisan!, hingga yang terlalu memaksa untuk membeli. Jika kamu mulai merasa kebal dengan iklan-iklan seperti itu, maka kemungkinan besar audiensmu juga merasakan hal yang sama. Fenomena ini dikenal sebagai copy fatigue, di mana audiens sudah terlalu sering melihat pola iklan yang sama sehingga menjadi tidak efektif lagi.
Dulu, teknik copywriting tertentu masih bisa menarik perhatian. Namun, seiring waktu, audiens semakin pintar dalam menyaring informasi. Mereka sudah bisa membedakan mana yang benar-benar menawarkan manfaat dan mana yang hanya sekadar strategi pemasaran. Jika pendekatan yang digunakan masih sama seperti dulu, jangan heran jika engagement menurun dan pesan yang disampaikan tidak lagi efektif. Maka, pertanyaannya adalah bagaimana agar copywriting tetap relevan dan tidak membuat audiens merasa bosan?
Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengurangi gaya komunikasi yang terlalu berorientasi pada penjualan dan mulai membangun percakapan yang lebih alami. Audiens saat ini lebih suka pendekatan yang terasa lebih manusiawi dan tidak dibuat-buat. Misalnya, jika ingin memasarkan produk perawatan kulit, daripada langsung mengatakan "kulit akan terlihat lebih cerah dalam tujuh hari!", lebih baik mulai dengan pertanyaan yang bisa membuat audiens merasa terhubung, seperti "Pernah merasa kulit sudah dibersihkan tapi masih terlihat kusam?" Dengan begitu, mereka lebih tertarik untuk membaca karena merasa masalah mereka dipahami.
Selain itu, banyak frasa yang dulunya ampuh dalam menarik perhatian kini justru kehilangan daya tariknya. Kata-kata seperti “diskon terbatas” atau “hanya untuk 100 orang pertama” sering kali dianggap sebagai sekadar strategi pemasaran yang tidak benar-benar eksklusif. Sebagai gantinya, gunakan pendekatan yang lebih spesifik dan jujur, misalnya, “Kami hanya memproduksi 100 unit agar kualitas tetap terjaga. Jadi, jika ingin mencobanya, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama.” Dengan cara ini, audiens lebih percaya dan tidak merasa sedang diperdaya.
Gaya komunikasi yang lebih santai dan autentik juga menjadi faktor penting dalam copywriting saat ini. Brand yang terlalu kaku sering kali sulit menjangkau audiens karena terasa tidak dekat. Banyak brand besar seperti Netflix dan TikTok berhasil menarik perhatian dengan menggunakan bahasa yang lebih santai tetapi tetap profesional. Pendekatan ini membuat audiens merasa lebih nyaman karena mereka tidak diperlakukan hanya sebagai target pemasaran, melainkan sebagai bagian dari komunitas brand tersebut.
Teknik storytelling juga dapat menjadi solusi untuk menghindari copy fatigue. Alih-alih langsung mempromosikan produk, lebih baik membangun narasi yang menarik. Jika menjual teh herbal, misalnya, daripada mengatakan, “Teh ini membantu tidur lebih nyenyak,” lebih baik mulai dengan cerita pengalaman, seperti “Beberapa bulan lalu, saya sering sulit tidur dan kelelahan setiap pagi. Sampai akhirnya saya menemukan teh ini, yang membantu tubuh lebih rileks tanpa efek samping.” Dengan pendekatan ini, audiens merasa lebih terhubung karena mereka tidak sekadar diberikan informasi, tetapi juga diajak masuk ke dalam cerita.
Strategi lain yang bisa diterapkan adalah memanfaatkan testimoni pelanggan dan konten buatan pengguna sebagai bentuk bukti sosial. Saat ini, banyak orang lebih percaya ulasan dan pengalaman nyata dibandingkan klaim langsung dari sebuah brand. Dengan membagikan pengalaman pelanggan yang telah mencoba produk, calon pembeli akan lebih yakin untuk mencoba tanpa merasa dipaksa. Selain itu, interaksi yang melibatkan audiens juga bisa meningkatkan keterikatan mereka dengan brand.
Pada akhirnya, copywriting bukan lagi hanya soal bagaimana membuat orang membeli, tetapi lebih kepada bagaimana membangun koneksi yang baik dengan audiens. Jika mereka merasa didengar, dipahami, dan dilibatkan, mereka akan lebih tertarik dengan brand yang kamu bangun tanpa harus merasa dipaksa. Jadi, saat menulis copy, jangan hanya berpikir tentang bagaimana menjual produk, tetapi juga bagaimana membangun hubungan yang lebih bermakna dengan audiens.